Teknologi dan Kebangkitan "Generasi Keajaiban"

Spread the love

Oleh DAHONO FITRIANTO

Bukan rahasia lagi, kemajuan teknologi komunikasi berperan sangat besar
dalam berkobarnya revolusi di dunia Arab saat ini. Jejaring sosial di
dunia maya, seperti Facebook, Twitter, Youtube, dan Flickr, disebut-sebut
berada di balik meluasnya demonstrasi antipemerintah, yang sejauh ini
sudah menggulingkan dua presiden bertangan besi.

Mulai dari sekadar mencurahkan kekesalan atas kelaliman penguasa di blog
hingga membuat ”monumen” peringatan pengorbanan martir prodemokrasi, lalu
berlanjut hingga penggalangan massa, diskusi teknis menghadapi pasukan
antihuru-hara, dan melaporkan detik demi detik perkembangan demonstrasi di
lapangan, semua dilakukan di dunia maya.

Melalui layar televisi terlihat bagaimana di tengah-tengah bentrokan
dengan aparat pemerintah yang berusaha membubarkan mereka, tak sedikit
demonstran yang mengacungkan telepon seluler, merekam setiap detail
kejadian. Dalam waktu singkat, rekaman gambar tersebut beredar di Youtube,
Facebook, Twitter, dan ditayangkan di televisi satelit semacam Al-Jazeera
dan CNN, lalu dikutip hampir semua stasiun televisi, kantor berita, dan
koran seluruh dunia.

Sesungguhnya semua kecanggihan teknologi itu telah menyiapkan panggung
untuk revolusi ini sejak jauh hari sebelumnya, tanpa pernah disadari
sepenuhnya oleh para pembuat teknologi itu maupun para penggunanya.

Alec Ross, penasihat khusus Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary
Clinton, mengatakan, teknologi itu sendiri tak membuat revolusi, yang kini
menyebar ke hampir seluruh dunia Arab, mulai dari Maroko di barat hingga
Yaman di timur dan Iran di utara. ”(Teknologi) tidak membuat gerakan
perlawanan ini berhasil. Orang-oranglah penyebabnya,” tandas Ross.

Generasi melek

Ross memang betul. Namun, orang-orang penggerak revolusi ini juga bukan
orang sembarangan yang secara acak tiba-tiba tergerak melawan pemimpinnya.
Mereka anak-anak muda, generasi terkini bangsa Arab, yang sudah menjadi
bagian dari warga negara global.

Sekilas mereka terkesan tak acuh, individualis, malas-malasan, tak punya
tujuan hidup jelas, idealisme, apa lagi ideologi. Pendeknya, generasi yang
hilang. ”Jika beberapa tahun lalu Anda mengatakan para mahasiswa saya itu
akan menjadi penggerak perubahan demokratis di Mesir, saya akan
menertawakan Anda,” tutur Hassan Nafaa, profesor ilmu politik dari
Universitas Kairo, kepada Time.

Profesor Olivier Roy, pakar politik dunia Islam dan Direktur Mediterranean
European University Institute di Florence, Italia, mengatakan, para
penggerak revolusi di dunia Arab saat ini bahkan mewakili apa yang disebut
”Generasi Pascaislamis”. Meskipun lahir dan tumbuh di dunia dengan tradisi
Islam kuat, generasi ini tidak lagi melihat (agama) Islam sebagai ideologi
politik yang bisa menawarkan perbaikan sistem masyarakat mereka.

”Generasi baru ini tak tertarik pada ideologi. Slogan mereka sangat
konkret dan pragmatis (seperti erhal, kata dalam bahasa Arab yang berarti
’pergi’),” demikian tulis Roy dalam esainya yang dimuat di
www.europeaninstitute.org, 17 Februari.

Menurut majalah The Economist, mereka serupa dengan generasi ”Baby
Boomers” di dunia Barat era 1960-an, yakni menghuni dunia yang menawarkan
kesempatan jauh lebih luas daripada dunia orangtua mereka.

Mereka berpendidikan lebih baik, memiliki akses informasi lebih luas, dan
menguasai teknologi telekomunikasi (televisi, internet, telepon seluler)
yang membuat mereka semakin melek, terdidik, dan terkoneksi satu sama lain
dan dengan warga global lain. ”Faktor terbesar dalam rangkaian peristiwa
ini adalah kebangkitan kekuatan anak-anak muda yang sangat urban dan
sangat terkoneksi satu sama lain dengan HP,” tutur Micah Sifry, salah satu
pendiri situs blog politik dan teknologi techPresident
(www.techpresident.com).

Mereka tak bisa lagi dibohongi pejabat pemerintahan yang menjalani
demokrasi abal-abal, direpresi kebebasan berekspresinya, dan tinggal diam
melihat korupsi dan pengangguran merajalela saat penguasa dan segelintir
orang- orang terdekatnya bermewah- mewahan.

Budaya pop

Kesadaran itu tak harus datang dari arus pertukaran informasi yang
”serius”. Dalam bocoran kawat diplomatik rahasia AS di WikiLeaks, yang
dilansir harian The Guardian, Inggris, 7 Desember 2010, terungkap,
film-film serial televisi populer buatan AS, seperti Desperate Housewives,
Friends, dan acara bincang-bincang santai Late Show with David Letterman,
berdampak pada pola pikir generasi muda di Arab Saudi.

Film-film yang ditayangkan tanpa sensor di stasiun televisi MBC 4 di Arab
Saudi itu bahkan dilaporkan lebih efektif dalam menjalankan ”Perang
Gagasan” yang dilancarkan AS untuk mencegah generasi muda Arab terjatuh
pada ekstremisme daripada tayangan wawancara para politikus AS di stasiun
televisi propaganda Al-Hurra yang didanai AS.

Kawat itu juga menyebutkan, warga Arab hingga ke sudut-sudut paling
konservatif tertarik dengan berbagai tema yang mengandung nilai
kemanusiaan universal dalam berbagai film Hollywood, seperti menjunjung
tinggi kejujuran di tengah dunia yang korup (dalam film Michael Clayton
yang dibintangi George Clooney) dan mengutamakan hukum di atas kepentingan
pribadi (Insomnia, dibintangi Al Pacino dan Robin Williams). ”Anda tak
lagi melihat kaum Bedouin, tetapi anak-anak dengan pakaian ala Barat”.

Gaya hidup urban pun menjadi hal lumrah di negara pusat agama Islam itu.
The Economist menyebut, anak-anak muda Arab Saudi biasa menggelar balapan
mobil liar ala film The Fast and the Furious di jalan-jalan raya di kota
kecil pada akhir pekan.

Jika hal itu bisa terjadi di Arab Saudi yang jelas-jelas masih menggunakan
sistem monarki dan memiliki polisi syariah yang amat represif, bisa
dibayangkan apa yang terjadi di negara-negara yang lebih sekuler dan lebih
terbuka, seperti Mesir, Tunisia, atau Libya.

Tak terjadi

Berbagai faktor tersebut juga sedikit banyak menjelaskan, mengapa aksi
demonstrasi di dunia Arab tidak (atau, paling tidak, belum) merambat ke
negara-negara lain yang juga dipimpin sistem nondemokratis di Afrika atau
di belahan dunia lain, seperti China.

Di kawasan Sub-Sahara Afrika, seperti Zimbabwe, Uganda, Kamerun, Gabon,
dan Senegal, yang rata-rata telah diperintah rezim lebih dari dua dekade,
memang sempat terjadi aksi protes, tetapi tak berkembang. Selain karena
faktor jaringan telekomunikasi dan internet yang belum merata,
negara-negara ini juga terdiri atas sejumlah suku yang bermusuhan sehingga
susah bersatu dalam sebuah revolusi.

Para pakar juga menduga revolusi serupa tak akan terjadi di China meski
negara itu memiliki 450 juta warga melek internet. Jean-Louis Rocca,
sosiolog dari Universitas Tsinghua di Beijing, mengatakan, China memang
diperintah sistem satu partai yang otoriter, tetapi tidak terpusat pada
satu tokoh dan bukan merupakan kekuasaan dinasti, seperti di dunia Arab.

China juga tak menderita kesulitan ekonomi dan kemiskinan akut seperti di
kawasan tersebut. ”Ada dukungan kuat terhadap rezim di sini meski rakyat
tidak (sepenuhnya) bahagia. Tidak ada keinginan untuk pergantian rezim,”
tutur Rocca.

Meski demikian, revolusi di dunia Arab mengingatkan bahwa status quo tak
mungkin dipertahankan karena ada kebangkitan generasi muda yang lebih
canggih dibandingkan dengan generasi pendahulunya. ”Merekalah generasi
internet… atau generasi Facebook… atau sebut saja mereka ’generasi
keajaiban’,” ungkap Profesor Nafaa.

Di tangan merekalah masa depan dunia. (AFP/AP/Reuters)

Sumber :
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/25/05483047/teknologi.dan.kebangkitan.generasi.keajaiban

Tag ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *