Pengalaman membawa keluarga studi di Taiwan

Spread the love

Nama saya Zaenal. Saya adalah mahasiswa PhD di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) atau dikenal dengan Taiwan Tech jurusan Industrial Management. Saat ini saya sudah menempuh pendidikan semester 3. Sebelum berangkat ke Taiwan saya sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak. Sebenarnya saya ingin mengajak anak dan istri berangkat bersama di awal tahun saya studi tapi karena hal itu tidak memungkinkan maka saya baru bisa membawa keluaraga ke Taiwan setelah saya tinggal satu tahun di sini.
Saya mengajak anak dan istri ke Taiwan agar kami bisa saling berbagi dan belajar bersama. Saat ini anak saya yang pertama sudah berusia tujuh tahun. Saya berencana untuk mendaftarkannya di sekolah dasar di kota Taipei. Anak kedua saya saat ini berusia 3 tahun jadi belum usia masuk sekolah sehingga tinggal bersama bermain dan belajar ditemani ibunya yang di rumah. Saya menyadari bahwa banyak tantangan dan kesulitan tentunya dengan membawa keluarga turut serta tugas belajar. tetapi tentunya tantangan dan kesulitan itu bisa diatasi dan bisa membawa hikmah dan pengalaman hidup yang berharga.
Ada beberapa pertanyaan dari teman teman mahasiswa yang juga punya niat sama untuk membawa keluarga ikut serta tinggal di Taiwan. Demikian pula sudah banyak pula teman teman mahasiwa yang sudah berhasil membawa keluarga ke Taiwan. Oleh karena itu saat ini saya akan berbagi pengalaman saya apa saja yang harus dipersiapkan bagi mahasiswa yang berniat membawa keluarga turut serta ke Taiwan. Semoga informasi dan pengalaman ini bisa bermanfaat sebagai referensi teman-teman untuk membawa keluarga ke Taiwan.
Hal pertama yang harus dipersiapkan tentunya adalah niat yang bulat untuk tinggal di Taiwan. Taiwan merupakan negara dengan budaya berbeda dengan Indonesia. Tentunya kita harus siap dan mampu untuk beradaptasi dengan hal ini. Kita harus belajar mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari di Taiwan mulai dari makanan, bahasa, adat istiadat, dan aturan-aturan yang tentunya berbeda dengan Indonesia. Apalagi sebagai seorang muslim saya harus menyesuaikan diri dengan selektif terhadap makanan halal, menjalankan ibadah, kebersihan dan lain sebagainya. Dikarenakan di Taiwan umat muslim termasuk minoritas sehingga tidak banyak restoran halal ada di sini. Demikian pula sedikit masjid yang bisa dijumpai di Taiwan tapi untungnya di Taipei ada dua masjid yang cukup dekat dengan tempat tinggal saya yang jaraknya sekitar 3 km.
Selanjutnya adalah persiapan dokumen. Banyak dokumen yang harus dipersiapkan mulai dari dokumen pribadi, paspor, visa, dan pemeriksanaan kesehatan. Untuk dokumen pribadi tentunya setiap pasangan harus menyiapkan foto, akta lahir, buku nikah, ijazah terakhir dan kartu tanda pengenal(KTP). Untuk foto sebaiknya siapkan banyak ukuran tapi yang sering dipakai adalah 3×4, 4×6 dan khusus untuk pembuatan ARC di Taiwan foto ukuran 5×5 walaupun hal ini bisa digantikan dengan ukuran 4×6. Untuk pemeriksaan kesehatan kita harus melakukan cek kesehatan di rumah sakit atau klinik yang ditunjuk oleh TETO di Indonesia. Daftar rumah sakit dan klinik bisa dilihat di situs TETO. Semua dokumen diatas disiapkan fotokopinya kecuali foto. Fotokopi buku nikah dilegalisir di kecamatan. Bagi yang membawa anak dibawah 6 tahun perlu dipersiapkan sertifikat imunisasi lengkap dalam Bahasa inggris atau sertifikat dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan di penerjemah. Jika semua dokumen lengkap maka kita bisa mulai proses pembuatan visa. Bagi yang tinggal sekitar Jabodetabek atau Surabaya bisa melakukan sendiri aplikasi pembuatan visa ini di kantor TETO. Bagi yang tinggalnya jauh dari Jakarta atau Surabaya bisa minta bantuan agen untuk membantu prosesnya. Saya memilih opsi yang kedua dikarenakan tempat tinggal saya cukup jauh dari ibukota sehingga saya meminta bantuan agen untuk membantu proses pembuatan visa.
Lama pembuatan visa ini bervariasi. Saya belum tahu jika mengurus sendiri prosesnya di TETO. Pengalaman saya proses pembuatan visa dengan bantuan agen membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Ada bebarapa dokumen yang perlu untuk diterjemahkan dulu dalam Bahasa inggris dan dilegalisir oleh Kemenkumham dan Kementerian luar negeri juga TETO. Demikian pula jika kita membawa anak dibawah enam tahun yang memerlukan dokumen imunisasi lengkap dan vaksin. Jika anak sudah mendapatkan imunisasi tapi belum mendapatkan sertifikat maka bisa mendapatkan di posyandu atau di puskesmas setempat.
Ada beberapa teman yang bilang bahwa proses mendapatkan visa keluarga saya terbilang lancer dan cepat. Saya masuk kuliah tanggal 7 bulan September 2015. Kemudian pada liburan summer tahun 2016 di akhir bulan Juni saya memperpanjang ARC saya sebelum saya pulang tanggal 12 bulan Juli 2016. Kita bisa lebih awal memperpanjang ARC sebelum mendekati masa satu tahun dengan menyampaikan alasan yang jelas seperti mau membawa keluarga ke Taiwan. Waktu perpanjang ARC ini membutuhkan waktu dua minggu untuk menunggu jadi ARC yang baru. Cukup dengan menunjukkan student ID yang sudah dicap semester kedua dan ARC lama serta tiket pesawat kepulangan ke Indonesia. Jadi pastikan bahwa sebelum kita pulang sudah memperpanjang ARC dulu.
Setelah saya sampai di Indonesia saya saya langsung menyiapkan dokumen-dokumen dan mengirimkannya ke a gen untuk dibantu mengajukan aplikasi visa pada tanggal 14 Juli 2016. Waktu itu ada dokumen sertifikat imunisasi dan akta lahir anak yang belum terkirim jadi saya mengirimkannya beberapa hari kemudian. Setelah menunggu dan memperkirakan beberapa lama visa saya selesai saya untuk membeli tiket pesawat perjalanan keluarga ke Taipei tanggal 18 Agustus 2016. Akhirnya setelah menungu beberapa minggu VISA istri dan dua anak saya jadi tanggal 15 Agustus 2016.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *