Kiat-kiat Membangun Keluarga Sakinah, Mawadah, Warohmah

Spread the love

Memang, setiap manusia, termasuk kita pembaca buku
ini selalu menginginkan keluarga yang sakinah, mawadah, dan
warahmah. Nah, untuk itu apa saja sih yang harus dilakukan
untuk mencapai keluarga yang diimpikan? Ikuti yuk tips dari
keluarga sakinah berikut ini:
a. Jangan Melihat ke Belakang
Setiap orang pasti memiliki masa lalu baik yang
bagus maupun yang kelam. Termasuk pasangan.
Di masa lalu pun mungkin ada sepenggal kisah tak
mengenakkan yang pernah mewarnai rumah tangga.
Jika tak ingin terseret dalam arus negatif, lupakan
hal-hal buruk yang pernah terjadi. Sambutlah masa
depan dengan senyuman. Setiap orang pernah
melakukan kesalahan dan berhak untuk menjadi lebih
baik.
Termasuk, jangan mengingat-ingat lagi mantan
orang yang dicintai saat belum menikah dulu.
b. Selalu Berpikir Objektif
Saat kalut menghadapi suatu hal, kadang kala
pikiran jadi ruwet dan segalanya tampak suram. Ini
terjadi jika kita ikut terpancing secara emosional.
Padahal, masalah apa pun itu, termasuk konfl ik dengan
suami maupun anak-anak, membutuhkan pikiran yang
jernih untuk menyelesaikannya.
Apalagi jika muncul pihak ketiga yang berusaha
memprovokasi. Beri jeda waktu agar pikiran menjadi
dingin dan lepas dari segala beban emosional. Setelah
merasa tenang, barulah mencari solusi diawali dengan
saling mendengarkan antara kedua pihak.

c. Fokus pada Kelebihan Pasangan
Kita pasti pernah merasa tidak percaya diri dengan
diri sendiri. Atau pernah juga dikritik oleh orang lain.
Artinya, kita masih memiliki banyak kekurangan. Begitu
pula dengan pasangan kita. Saat masih gadis mungkin
kita selalu berangan-angan tentang pendamping hidup
yang tampan, baik hati, terhormat, dan berkecukupan.
Namun setelah menjalani rumah tangga beberapa
tahun, kita mulai tahu sifat aslinya, kebiasaan buruknya
yang mungkin membuat penilaian kita menjadi
berubah. Ternyata dia posesif, ternyata dia pelupa, dan
lain sebagainya. Tapi pasti kita juga menemukan banyak
kelebihan suami yang dulu tidak diketahui. Ternyata dia
penyayang dan perhatian, tiap lihat makanan kesukaan
kita sepulang kantor pasti dibelikan. Ternyata dia jago
masak nasi goreng, dan lain-lain.
Nah, fokuslah pada hal-hal baik ini. Kalaupun
tidak bisa menyingkirkan keburukannya dari depan
mata, temukanlah alasan bahwa itu di balik itu ada
hikmahnya. Oh, mungkin dia posesif karena amat
mencintai kita, begitu….
d. Saling Percaya
Kunci dari sebuah hubungan adalah rasa percaya.
Tanpa rasa saling percaya, kehidupan rumah tangga
tentu tak akan berjalan mulus. Rasa aman, nyaman,
tenteram yang menjadi salah satu tujuan pernikahan
tidak akan muncul. Bagaimana bisa tenang kalau
‘Bunda’ dan ‘Sista’ (bukan nama sebenarnya) selalu
gelisah, curiga, dan khawatir memikirkan sedang apa si
dia di luar sana?
Jangan-jangan dia ketemu sama klien yang cantik
bukan main, jangan-jangan dia melihat seseorang yang
lebih salehah dan membandingkannya dengan kita.
Begitu pula jika suami berlaku demikian. Kuncinya,
selalu khusnudzon dan jangan sia-siakan kepercayaan
yang diberikan suami.
e. Kebutuhan Seks
Perkawinan tanpa seks bisa dibilang seperti
sayur tanpa garam. Hambar. Ya, seks memang perlu.
Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk
memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga
mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan
bersama pasangan hidupnya.
Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya
keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan
kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks
adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari
adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks
yang menyenangkan akan memberikan dampak positif
bagi istri dan suami.
f. Hindari Pihak Ketiga
Setelah ij ab kabul terucap dan sah menjadi
pasangan suami-istri, maka tidak mustahil bisa saja
kemudian timbul permasalahan, maka selesaikanlah
berdua saja. Tentunya suami-istri lebih banyak
mengetahui keadaan dan arah rumah tangga ke depan.
Tak perlulah melibatkan orang lain. Banyak cerita
tentang membesarnya konfl ik justru setelah pihak
ketiga terlibat maupun sengaja dilibatkan, entah itu
mertua, saudara ipar, tetangga, dan
Kalaupun ingin mendapat nasihat atau memiliki
sudut pandang yang berbeda, maka mintalah pada
seseorang yang sudah teruji pengalaman hidupnya,
yang telah diketahui baik akhlaknya dan yang
kemungkinan tidak akan melibatkan emosi pribadi
dalam memberikan nasihat.
g. Menjaga Romantisme
Terkadang, pasangan yang sudah cukup lama
membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli
pada soal yang satu ini. Padahal, menjaga romantisme
dibutuhkan oleh pasangan suami istri sampai kapan
pun, tak cuma ketika mereka berpacaran. Sekadar
memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng
tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri
tempat-tempat romantis akan kembali memercikkan
rasa cinta kepada pasangan hidup Anda.
Tentu, ujung-ujungnya pasangan suami-istri akan
merasa semakin erat dan saling membutuhkan. Meski
sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya
bagi suami lho, dan sebaliknya. Memberikan pujian
ringan seperti “Masakan Mama hari ini luar biasa, lho!”
atau “Wah, Papa tambah keren pakai dasi itu.” Ucapanucapan sepele seperti itu akan memberikan dorongan/
semangat yang luar biasa. Pasangan Anda pun akan
merasa dihargai.
h. Selalu Utamakan Komunikasi
Komunikasi juga merupakan salah satu pilar
langgengnya hubungan suami istri. Hilangnya
komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah
tangga. Komunikasi yang dimaksud di sini bukan hanya
ngobrol-ngobrol saja. Komunikasi ini dimaksudkan
untuk saling mengerti. Dan, sebaiknya lepaskanlah halhal yang berbau prasangka dan emosi.
Menjaga komunikasi bisa diawali dengan
kebiasaan ngobrol dan duduk bersama. Sampaikan apa
yang istri merasa perlu diketahui suami atau anak. Buat
iklim rumah tangga menjadi terbuka sehingga tidak ada
anggota keluarga yang merasa tidak didengarkan.
i. Jaga Spiritualitas Rumah Tangga
Salah satu pij akan yang paling utama seorang rela
berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada
syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan
materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah
nilai pahala yang Allah janjikan.
Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung
pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik
masalah, Allah Swt. Sertakan rasa baik sangka kepada
Allah Swt. Tataplah hikmah di balik setiap masalah.
Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita
hadapi.

*** (Ir. HM. Bargumono, M.Si.)

Tag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *