Beginilah Islam yang ramah

Spread the love

Sekedar contoh arti toleransi
“Ada seorang Ustadz tinggal di suatu komplek (perumahan), beliau memiliki tetangganya nashrani, dan tetangga ini merupakan nashrani yang taat, setiap hari Ahad pergi ke gereja. Sering ketika sang Ustadz hendak berangkat mengajar mengisi pengajian bertemu dengan tetangganya tersebut yang hendak ke gereja, sang Ustadz membawa Al-Quran (dan Kitab) dan si tetangga membawa injil. Tak lupa sang Ustadz menyapa, “Selamat pagi pak?” Si tetangga pun menjawab, “Pagi Ustadz.” Mereka saling menyapa. Itu terjadi sekitar 1998. Ketika si nashrani itu sakit maka sang Ustadz mengunjunginya, ketika si tetangga terkena musibah rumahnya terkena angin puting beliung maka sang Ustadz mengajak jama’ah pengajiannya untuk membantu memperbaiki rumahnya.Anak-anak dari tetangga tersebut juga merupakan aktivis gereja, yang putera gitaris dan yang puteri vokalis, sedangkan sang bapak rajin ke gereja. Dan setiap ada hari raya Umat Islam selalu mengucapkan selamat kepada Ustadz. Namun ketika ada hari raya nashrani maka sang Ustadz tidak pernah mengucapkan selamat, sang Ustadz selalu mengatakan, “Maaf pak, ajaran saya Islam melarang untuk mengucapkan selamat, tapi saya tetap menghormati bapak dan kita tetap bertetangga, dan saya senang bertetangga dengan bapak.” Si tetangga tidaklah tersinggung, dan hubungan tetangga tetap harmonis.Ternyata diam-diam si bapak mempelajari Islam, diam-diam dia tertarik, membaca buku-buku tentang Islam, dan dia belajar dari perilakunya Ustadz (Hal ini sangat penting diperhatikan!! Jika ada orang belajar Islam dari perilaku kita kira-kira bagaimana? Apakah mereka akan tertarik atau malah lari?).Pernah suatu ketika si bapak berkunjung ke rumah sang Ustadz, dan qadarullaah hujan deras. Maka sang Ustadz mengantarnya pakai mobil, ketika di mobil sang Ustadz memegang tangan si bapak yang sudah tua itu seraya berdo’a kepada Allaah (di dalam hati), “Yaa Allaah, Yaa Haadii, Wahai Allaah Yang Maha Memberi hidayah, berilah hidayah kepada hambaMu ini, bapak ini. (beliau terus berdo’a).” Maka ketika si bapak telah turun, sang Ustadz ini menangis sambil berdo’a. Tidak cuma itu, Ustadz pun ketika di Masjid tidak lupa berdo’a agar si bapak diberi hidayah oleh Allaah.Sampai datang suatu ketika, sang Ustadz baru pulang dari Masjid, ternyata di depan pintu rumah sang Ustadz sudah menunggu bapak itu memakai peci, bapak itu langsung bicara, “Ustadz, bimbing saya untuk masuk ke dalam Islam.” Maka sang Ustadz pun senang sekali, dan merangkulnya, dan dibimbing. Kemudian beberapa hari kemudian Istri bapak itu, anak-anaknya, semua masuk Islam, pada tahun 2002.”Pertanyaannya, sudahkah kita berbuat? Maka jadilah ‘Kran Kebaikan’.- Sepenggal Kisah Dari ‘Kran Kebaikan’, Al-Ustadz Abdullah Zaen MA.
Diketik @Vila Bukit Tidar, Malang
24 Dzulqa’dah 1436 –

Tag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *